Drs Eddie Kusuma SH MHum: “Saya Tidak Inginkan Perbedaan”

catatan
INGOT SIMANGUNSONG

kusuma

Sebagai manusia biasa saya akan merasa berguna jika diri saya bermanfaat bagi orang lain. Bukan diri saya bermanfaat untuk diri saya sendiri. Orientasi hidup saya, berbuat kebaikan untuk semua orang tanpa memandang adanya perbedaan. Hal ini diungkapkan Drs Eddie Kusuma SH, suami Ng Suryani ST dan ayah dari Indra T Kusuma (mahasiswa Universitas Indonesia), Sandra P Kusuma (SMA), Vera C Kusuma (SMA) dan Clara P Kusuma (TK) ini kepada saya saat wawancara di Danau Toba International Hotel Medan.

Bagaimana Anda memenej hal tersebut dalam perjalanan hidup Anda?

Kalau kita masih memiliki rasa ego yang demikian dominan dalam diri kita, menjadi bermanfaat bagi orang lain tanpa memandang adanya perbedaan, tidak akan dapat dijalankan. Kita memang harus berbuat untuk orang lain, tanpa membedakan suku, agama dan kebudayaan. Kalau kita bisa diterima orang lain, itulah sebuah keberhasilan. Keberhasilan itulah sebuah kepuasan.

Tapi, sebagai manusia biasa, untuk menekan rasa ego dalam diri sendiri bukanlah pekerjaan gampang. Bagaimana Anda melakukannya?

Itulah yang saya katakan, kesadaran. Kalau kita sadari, bahwa sebagai manusia kita tidak mungkin hidup sendirian, otomatis ego itu akan hilang. Manusia itu tidak bisa berdiri sendiri, walau pun ada pandangan yang mengatakan harus berdiri sendiri. Namun, kita jangan salah mengartikannya, karena berdiri sendiri itu dalam pengertian, membangun satu sifat kemandirian tapi bukan berarti kita hidup sendiri.

Manusia sejak lahir sudah harus dibantu, sampai mati pun harus dibantu. Perbedaannya, ketika kita lahir, kita menangis dan ketika kita meninggal orang yang menangis. Jadi, manusia itu harus ada saling keterikatan. Makanya, orang-orang di sekeliling saya, kadangkala merasa heran karena saya banyak memberikan perhatian pada kepentingan orang banyak.

Ada yang protes Anda melakukan hal ini?

Ada dan banyak. Termasuk dari keluarga sendiri.

Bagaimana Anda mengatasi hal ini?

Ya, kita harus memberikan pemahaman kepada keluarga, baik itu istri, anak-anak maupun saudara-saudara saya, tentang filosofi hidup saya. Terus terang, fakta yang kita lihat sekarang, rasa kebersamaan itu sudah semakin berkurang dan kebanyakan orang hanya memikirkan diri sendiri.

Apa yang menyebabkan hal itu?

Ini akibat gejala sosial, di antaranya masyarakat kita lebih banyak mementingkan diri sendiri atau kelompok. Kalau kita ikuti juga pola hidup seperti ini, mau jadi apa bangsa ini.

Apa banyak “orang-orang” seperti Anda?

Saya kira banyak, tapi jumlahnya tidak sebanding dengan masyarakat yang lebih mementingkan diri sendiri. Kita harus mengakui, nilai-nilai sosial di lingkungan kita tumbuhnya memang semakin memprihatinkan. Lihat saja bagaimana para politikus kita lebih mementingkan kepentingan kelompok partai politiknya.

Jadi, apa yang harus kita lakukan menyikapi hal ini?

Ya, kita perlu kembali mendalami rasa kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Ini yang harus kita tumbuh kembangkan dan bangkitkan. Maka, saya menulis buku berjudul “Membangun Keutuhan Bangsa”.

Satu pilar yang saya tawarkan dalam tulisan saya itu, adalah “keyakinan kita terhadap Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa, harus betul-betul dipahami oleh masyarakat Indonesia, sehingga NKRI benar-benar utuh.”

Menurut Anda, masih relevankah program Penyuluhan, Pengamatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dihidupkan kembali?

Institusi P4, pengamalan Pancasila sangat perlu. Hanya saja, prilaku oknum-oknumnya yang tidak benar. Tapi, dilihat konsepsinya Pancasila sebagai dasar negara, harus benar-benar dipahami seluruh rakyat Indonesia, karena inilah satu-satunya alat pemersatu bangsa.

Namun, kalau ini dijadikan sebuah persyaratan, menjadi sangat formil, tidak sependapat dan terlalu mengada-ada. Soal keyakinan adalah masalah pribadi masing-masing. Jadi, P4 jangan main tunjuk. Saya lebih cenderung, institusi P4 itu memproduksi masyarakat yang memahami Pancasila karena kesadaran sendiri. Kalau karena kesadaran sendiri untuk mendapatkan pemahaman, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang kuat.

Sejak kapan Anda mengembangkan pandangan hidup?

Saat usia saya remaja, saya sudah memahami pentingnya sebuah pandangan hidup ke depan. Saya besar di Medan. SMA di Tri Bukit. Saya sangat peduli dengan dengan lingkungan saya.

Bentuk kepedulian seperti apa yang Anda lakukan di usia remaja?

Saya aktif di pramuka, hidup bersahaja, disiplin, dan taqwa. Usia 18 tahun saya sudah menjadi pembina pramuka. Melalui wadah ini, saya dapat melakukan kepedulian terhadap siapa saja tanpa memandang adanya perbedaan. Saya justru menjadi pembina pramuka bukan di lingkungan sekolah Tionghoa. Saya menjadi pembina di lingkungan berbagai etnis. Dalam lingkungan inilah saya membangun rasa kebersamaan tanpa adanya perbedaan.

(Pramuka binaannya di Gugus Depan 043 Kelurahan Pandahulu I dengan jumlah pasukan mencapai ratusan orang. Banyak pramuka binaannya di Medan.)

Andakan etnis Tionghoa dengan warna kulit putih halus, kenapa tertarik dengan pramuka yang kesannya banyak mengeluarkan energi dan berada di bawah terik matahari?

Kenapa harus demikian, mungkin lingkungan yang mengharuskan saya demikian. Sejak dulu saya memang tidak menginginkan adanya perbedaan dan kalau pun saya dibeda-bedakan, saya tidak mau. Saya ngotot. Kalau ada yang mengatakan, lu Cina, saya tidak terima. Apa saya menjadi seorang Cina itu karena kemauan saya. Memang kodratnya sudah begitu. Makanya, teman-teman saya, memahami betul semangat dan jiwa saya dan rasa “nasionalisme” saya tinggi. Ketika Tri Bukit dijadikan sebagai sekolah asimilasi, saya tidak merasa gentar bergabung dengan saudara-saudara saya yang kulitnya berbeda dengan saya. Malah saya menjadi Ketua OSIS.

Makna reformasi bagi Anda?

Saya sangat menghargai reformasi, karena sebelum reformasi ini terjadi, 20 tahun lalu saya sudah mereformasi diri saya sendiri.

Bagaimana Anda memberikan pemahaman kepada keluarga tentang pendirian Anda sendiri?

Saya selalu mengajak keluarga untuk lebih memahami keadaan. Putra saya yang kuliah di Universitas Indonesia, saya haruskan untuk kos dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Kalau mau jadi orang, anak saya harus mengetahui dan memahami lingkungannya. Tidak boleh hidup istimewa dan harus bersatu dengan yang lainnya sebagai putra-putri Indonesia.

Anak Anda bisa menerima hal tersebut?

Mau tidak mau, karena dia juga melihat bagaimana bapaknya beradaptasi dengan lingkungan.

Putra Anda sudah mengikuti jejak Anda?

Saya lihat sudah mulai ke arah sana. Dia mampu dan lebih bagus dari saya, ketika saya seusia dengannya. Jelas, karena ketika saya seusia dengannya, saya masih dibeda-bedakan. Sekarang, dia tidak dibeda-bedakan, jadi lebih baik dan inilah buah dari reformasi.

Ada perbedaan nilai juang?

Nilai juang jelas ada perbedaannya, karena harus kita sadari hidup dan kehidupan. Kalau dulu hidup gampang, kehidupan sangat susah. Sekarang, hidup susah kehidupan yang gampang.

Menjaga keharmonisan keluarga seperti apa Anda lakukan?

Saya termasuk orang yang cukup sibuk di luar, namun yang paling penting dibangun adalah komunikasi. Setiap niat yang baik, pasti keluarga akan bisa menerimanya dengan baik juga.

(Tahun 2006, Eddy Kusuma mengkonsentrasikan diri untuk menulis buku. Sejak kecil ia memang sudah berbakat menulis. Ketika ia mengambil S2 dan S3, semakin meningkat intensitasnya menulis apa saja.)

One Response to Drs Eddie Kusuma SH MHum: “Saya Tidak Inginkan Perbedaan”

  1. [...] 18 Eddie Kusuma, M.H. (Medan, 24 April 1958)(L)(Muara Karang, Jakarta Utara) -pengusaha (kontraktor, perkebunan sawit, dll.) -alumnus S2 Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung -alumnus Lemhannas (2006) -pendiri yayasan Chandra Kusuma & Supriyadi (penyelenggara TK/SD/SMP/SMA) -pengajar Lemhannas & dosen tidak tetap di beberapa perguruan tinggi swasta -company advisor SAC Group; direktur Anugerah Group, Dutamulti Group, Greenpalm Group -pengacara, senior partner di kantor pengacara Marthen Pongrekun, S.H. -ketua umum Lembaga Pengkajian Suara Kebangsaan Tionghoa Indonesia (Sakti) -wakil ketua Forum Demokrasi Kebangsaan (Fordeka) -anggota Departemen Politik dan Hukum Dewan Harian Nasional’ 45 -pembina Pramuka -anggota Dewan Pembina Asosiasi Wartawan Muslim Indonesia -pembina Harian Global, Medan -pernah mengajukan diri sebagai calon wakil gubernur DKI (2006), tidak terpilih -ingin menghidupkan kembali program penataran P4 [...]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.